Preeklamsia
Preeklamsia adalah kelainan pada saat kehamilan dengan gejala umum yang timbul berupa tekanan darah di atas normal (hipertensi), bengkak pada kedua tungkai dan terdapat protein pada air seni. Namun terkadang, preeklamsia (keracunan kehamilan) muncul tanpa disertai keluhan. Jadi, ibu hamil merasa dirinya sehat-sehat saja, setelah diperiksa saat kontrol rutin, baru ketahuan kalo ibu mengalami hipertensi. Kehamilan yang telah beresiko mengalami preeklamsia antara lain:
1. Kehamilan pertama
2. Kehamilan pertama di bawah 20 tahun atau di atas 35 tahun
3. Kehamilan kembar
4. Kehamilan dengan diabetes
5. Kehamilan dengan hipertensi sebelum hamil
6. Kehamilan dengan masalah ginjal pada ibu
7. Kehamilan yang disertai riwayat preeklamsia pada kehamilan sebelumnya
Sayangnya, penyebab preeklamsia sampai saat ini tidak bisa diketahui dengan pasti, yang jelas, preeklamsia merupakan salah satu penyebab kematian pada ibu hamil, disamping infeksi dan perdarahan. Apa resiko bagi janin? Preeklamsia menyebabkan aliran darah utero – plasenta berkurang. Akibatnya, janin berkurang suplai nutrisi dan oksigen hingga dapat mengalami pertumbuhan terhambat berupa berat badan lahir rendah, lahir kurang bulan (prematur), biru saat dilahirkan (Asfiksia) dan penyulit kelahiran lainnya. Oleh dokter, ibu dengan preeklamsia dianjurkan beristirahat total (bed rest) untuk meringankan kerja jantungnya dan memungkinkan kecukupan suplai darah ke janin. Selain itu, ibu dianjurkan mengurangi makanan yang mengandung garam rendah / tinggi, karena garam dapat menyebabkan volume darah bertambah, memberatkan kerja jantung dan meningkatkan tekanan darah. Anjuran lainnya yaitu memperbanyak asupan air minum untuk mendorong garam keluar tubuh melalui urine, minimal 2 liter air minum per hari. Pencegahan dapat dilakukan dengan melakukan pemeriksaan kehamilan dan konsultasi pada dokter secara teratur, yaitu sekali sebulan pada kehamilan awal sampai 30 minggu; 2 minggu sekali sampai dengan kehamilan 36 minggu dan kemudian setiap minggu sampai kelahiran.
Perilaku Negatif Anak Sekolah Dasar
Seyogyanya anak-anak yang masih duduk sekolah dasar mempunyai tindakan dan perilaku yang masih polos, pemikiran yang berkembang pun masih dalam tahap proses belajar dan belajar dari lingkungannya. Jika lingkungan sekitarnya baik maka ia pun akan menyerap dengan baik pula, namun jika lingkungan di sekitarnya buruk, maka ia kan menyerap dan mencernyanya menjadi buruk pula, jadi bagaimana peran para orang tua dan guru-guru disekolah menjadi filter bagi setiap perkembangan perilaku anak-anaknya.
Banyak berita-berita yang kita saksikan baik dari media cetak maupun elektronik yang menyiarkan kekerasan yang dilakukan oleh anak-anak sekolah, baik itu anak SD, SMP, SMA hingga anak-anak kuliahan. Sudah menjadi apa dunia pendidikan kita? Apakah sudah berubah fungsi dari ring ilmu pengetahuan menjadi ring tinju / smackdown? PR bagi semua pihak yang terkait baik dari pemerintah, media, dinas pendidikan maupun orang tua, agar perilaku anak tidak berkembang menjadi perilaku yang negatif. Ini semua dapat di mulai dari pendidikan dasar terlebih dahulu, bentuk watak anak berdasarkan pancasila dan agama. Sebuah PR yang sangat beratkah / hanya sebuah impian belaka?
Mari kita lihat aneka penyebab perilaku kekerasan pada anak dan bagaimana mencegahnya:
Gangguan Di Perut Semasa Hamil
1. Kembung
Perut kembung terjadi akibat peningkatan hormon progesteron yang menyebabkan kinerja sistem pencernaan berjalan lambat, sehingga terdapat banyak gas di saluran pencernaan, itulah yang menyebabkan perut kembung.
Penyebab lainnya karena banyak mengkonsumsi makanan atau minuman yang mudah membentuk gas, contohnya kol, apel, pir, soft drink, brokoli, keju, sereal dll.
Solusi: hindari makanan atau minuman yang dapat membentuk gas di saluran pencernaan atau konsultasi ke dokter Anda, biasanya akan diberikan obat yang mengandung enzim pencernaan.
2. Kulit retak
Permukaan kulit terlihat pecah-pecah atau membentuk garis-garis berwarna cokelat, biasanya terjadi di seputar perut yang mengalami pembesaran rahim dan dinding perut ibu. Semakin lama usia kandungan bertambah, maka peregangan kulit di perut akan semakin terlihat jelas. Pecah-pecah atau membentuk lekuk-lekuk garis tidak hanya terlihat diperut, biasanya juga dapat terjadi di pinggang, paha bahkan payudara.
Ragam Ketakutan Anak Dan Cara Mengatasinya
1. Binatang Kecil
Banyak anak takuta dengan bintang kecil yang geraknya tidak dapat diperkirakan, seperti serangga dan tikus.
Cara mengatasi:
Bila rasa takut ini karena meniru orangtuanya, maka cara yang paling jitu untuk mengatasinya adalah dengan memberi contoh. Tunjukkan bahwa orang tua tidak tiket dengan binatang tersebut. Orang tua harus mampu mengendalikan rasa takutnya namun, bila bukan karena meniru, orang tua dapat membantu anak melawan rasa takut itu dengan mengajak anak mengamati gambar binatang kecil yang ditakuti, kemudian ajaklah untuk mengamati langsung binatang itu jelaskan dan tegaskan, beberapa dari binatang kecil itu tidak perlu ditakutkan beberapa bahkan bermanfaat seperti kecoa untuk memakan kuman-kuman yang ada di kamar mandi. Tapi, meski tidak berbahaya, binatang itu jangan dipegang / diganggu karena dapat menggigit.
2. Gelap
Ruangan yang gelap sangat menakutkan bagi anak. Saat lampu dimatikan pada waktu malam, banyak anak merasa ketakutan.
Cara mengatasi:
Lawan rasa takut itu dengan cara mengajak anak pada suasana gelap. Sebelumnya, bawalah senter / lilin. Tenangkan dan berikan penjelasan, ketika dalam gelap ada cara untuk mengatasinya yakni dengan membawa alat penerangan.
MasuK SD Sudah Harus Bisa Baca – Tulis ?
Apakah Anda gelisah karena si kecil sudah mau masuk SD, tetapi belum bisa baca – tulis? Jika jawabannya “ya”, maka Anda tidak sendirian, sebagian besar orangtua di manapun merasakan hal yang sama dengan Anda. Padahal mereka atau mungkin Anda tahu bahwa sebenarnya lulusan TK tidak diwajibkan untuk dapat membaca dan menulis.
Menilik pada tahun 2006, Tabloid Nakita mengadakan poling terhadap orantua bahwa 61,5% responden mengaku khawatir bila anak mereka yang berusia 5 – 6 tahun belum bisa membaca walaupun mereka tahu sebenarnya itu bukan keharusan. Kekhawatiran ini lebih disebabkan banyaknya SD di Indonesia yang memberlakukan tes baca tulis untuk calon siswanya. Padahal Mendiknas, Bambang Sudibyo pernah menegaskan bahwa anak-anak pada usia pra sekolah tak pantas dibebani pelajaran membaca, menulis dan berhitung. Mereka hendaknya justru lebih banyak diarahkan pada pembentukan sikap daripada dijejali pengetahuan dan keterampilan.
Contoh negara luar, Rusia dan negara-negara Skandinavia, anak baru diajarkan membaca secara formal pada usia 7 tahun. Namun di Indonesi, banyak TK bahkan Playgrup ada yang sudah mengajari muridnya membaca, sekali lagi karena tuntutan SD – SD yang mensyaratkan calon siswanya untuk bisa baca tulis. Bahkan yang menarik, tempat-tempat kursus membaca di daerah Jakarta mengaku banyak menerima siswa berusia 2 – 3 tahun karena orangtuaa mereka yang ngotot ingin anak-anak mereka bisa cepat membaca.
