Manfaat Tidur Siang Bagi Anak
Tidur siang dan tidur malam mempunyai manfaat sendiri-sendiri, jadi jangan abaikan dan remehkan dari kegiatan yang satu ini.
Definisi tidur adalah proses normal di mana tubuh manusia beristirahat. Namun di saat tidur, kegiatan bernapas, pengaturan suhu tubuh dan mekanisme otot tetap berfungsi.
Kualitas tidur yang baik adalah cukup waktu, tidak terlalu lama dan tidak terlalu sebentar. Untuk usia pra sekolah waktu yang dibutuhkan ketika tidur siang sekitar 1,5 – 2 jam. Untuk batita sekitar 2 – 3 jam. Kebutuhan tidur siang berbeda-beda pada setiap tingkatan usia. Semakin bertambah usianya, maka kebutuhannya akan tidur siang semakin berkurang. Hingga memasuki usia 7 tahun, umumnya anak sudah tidak membutuhkan tidur siang lagi, walaupun ada beberapa anak usia sekolah yang masih melakukan kegiatan tidur siang.
Dongeng Aktifkan Simpul Syaraf Pada Bayi
Sejak si kecil masih dalam kandungan, Rika sudah biasa mendongeng untuk anaknya. Banyak hal yang diceritakan, mulai dari aktivitas yang sedang dilakukannya sampai cerita-cerita sarat pesan moral yang dibaca dari beragam buku. Hingga anaknya lahir, Rika masih terus melakukan kebiasaan tersebut. Sambil memandikan, menyuapi dan bersiap tidur pun, ibu satu anak ini menyelipkan satu-dua cerita. Hasilnya? “Saya lihat perkembangan anak saya lebih cepat dibanding bayi-bayi seusianya. Saya rasa memang banyak manfaat yang bisa diperoleh dengan mendongeng pada anak sejak bayi,” ujarnya.
Ada lagi contoh nyata: seorang mempelai perempuan memilih satu lagu khusus untuk mengiringi pernikahannya. Ketika ditanya alasannya, dengan lugas ia menjawab, “Lagu ini rasanya akrab sekali di telinga saya. Katanya sewaktu bayi saya sering didongengi cerita yang tertulis sebagai syair lagu ini.” Wah, masa sih efek dongeng pada bayi bisa sedahsyat itu?
Seni Berbicara Pada Bayi
Memperkenalkan Nama Benda
Perkenalkan segala sesuatu di sekitar kita kepada bayi. Ini bisa dimulai dengan yang sederhana, seperti wajah kita. Yuk, ajak tangan bayi menjelajahi wajah kita. Sambil menyentuh setiap bagiannya, sebutkan mana mata, hidung, mulut, telinga, dan lain-lain. Lalu, lanjutkan dengan anggota tubuh. Lebih jauh lagi, perkenalkan bayi pada nama-nama benda di sekitarnya; bola, meja, kursi, kotak. Perkenalkan pula si kecil pada pohon, mobil, kucing, anjing, dan aneka obyek di luar rumah.
Menjadi Pendengar
Meski bayi belum mampu mengungkapkan keinginan atau gagasan lewat kata-kata yang jelas, sebaiknya mulailah ”mendengarkan” setiap ia ”mengungkapkan” sesuatu. Jadilah pendengar aktif. Usahakan mengira-ngira apa yang ingin bayi ungkapkan. Lalu, berikan respon. Misal, ”Oh, bagus sekali!” atau ”Apa betul?” Ajak pula bayi berdialog, meski ia hanya akan merespon dengan gumaman, gerakan, senyum atau bahasa tubuh lainnya.
Memilih Permainan Untuk Bayi & Manfaatnya
Bermain adalah belajar bagi bayi. Aktivitas bermain tak perlu dibatasi hanya dengan mainan-mainan serbajadi. Bayangkan bayi yang tinggal di pedalaman dan tak kenal mainan kota, dia toh tetap dapat belajar dengan mainan seadanya. Yang penting, Anda dan si kecil dapat menikmati interaksi yang menyenangkan. Jadi enggak ada tuh, keharusan memenuhi kamar si kecil dengan mainan. Cukup dengan satu boneka saja, misalnya, ditambah sedikit kreativitas, maka ada banyak permainan yang dapat dilakukan bersama bayi. Anda bisa menyulap boneka itu seolah-olah hidup dan berbicara dengannya, sehingga kosakata yang ditangkap si kecil pun bertambah.
Mainan murah sederhana sekalipun bisa jauh lebih bermanfaat dibanding mainan superlengkap yang mahal. Dengan syarat, orangtua bisa menyulap mainan murah itu menjadi sarana penstimulasi pancaindra buah hatinya.
Melihat dan Menafsirkan Kekecewaan Pada Bayi
Jangan biarkan rasa kecewanya terakumulasi. Dampaknya bisa panjang lo.
Coba perhatikan wajah mungil si bayi saat kita melepaskannya dari gendongan lalu menaruhnya di boks atau ketika ia haus sementara kita masih sibuk dengan hal lain. Begitu juga selagi ia memegang mainan tertentu dan kita menganggapnya kotor lalu segera mengambilnya untuk dibersihkan. Anda segera dapat melihat ekspresi kekecewaannya. Begitu pula ketika ayah dan ibu harus pergi bekerja.
Seperti halnya rasa marah atau perasaan negatif lainnya, kekecewaan merupakan hal yang tak bisa dihindari dalam keseharian. Rasa kecewa ini muncul akibat sikap lingkungan yang tak diharapkan. Jika lingkungan cepat memberi respons untuk memenuhi kebutuhannya, maka bayi akan merasa bahagia dibanding jika berada di lingkungan yang lambat, kurang peka, atau bahkan sama sekali tidak merespons kebutuhannya. Apakah itu kebutuhan fisik yang ditandai rasa lapar, haus, dingin, kepanasan, atau kebutuhan psikis seperti ingin disayang, dibelai, dipeluk, ditimang, dan dicium.


