Memilih Les Sesuai Karakter Anak
Tujuan dari les adalah mengembangkan karakter / kemampuan anak agar lebih positif. Banyak orangtua yang mengikutsertakan anaknya ke sebuah lembaga untuk mengikuti kursus/les atau memanggil guru les untuk private per mata pelajaran, agar diharapkan nantinya si anak dapat mengembangkan kemampuannya yang dirasa kurang terasah.
Di samping les mata pelajaran, les yang bersifat non akademis pun diburu para orangtua untuk sang anak, seperti sepakbola, renang, bulutangkis, catur, menggambar, menari, bela diri, melukis, balet dsb.
Les non akademis ini sebenarnya wajar saja, para orangtua menginginkan agar anaknya memiliki kelebihan yang dapat ditonjolkan dan dibanggakan dan manfaat dari les ini pun dapat berguna untuk mengoptimalkan minat dan bakat anak, serta mengembangkan kemampuan sosialisasi anak.
Jadi, semua jenis les itu adalah baik ,tetapi yang penting yang harus diingat oleh para orangtua adalah mengikuti les itu harus sesuai dengan minat, bakat dan kemampuan si anak. Selain itu, orangtua harus pula memperhatikan karakter anaknya.
Perilaku Negatif Anak Sekolah Dasar
Seyogyanya anak-anak yang masih duduk sekolah dasar mempunyai tindakan dan perilaku yang masih polos, pemikiran yang berkembang pun masih dalam tahap proses belajar dan belajar dari lingkungannya. Jika lingkungan sekitarnya baik maka ia pun akan menyerap dengan baik pula, namun jika lingkungan di sekitarnya buruk, maka ia kan menyerap dan mencernyanya menjadi buruk pula, jadi bagaimana peran para orang tua dan guru-guru disekolah menjadi filter bagi setiap perkembangan perilaku anak-anaknya.
Banyak berita-berita yang kita saksikan baik dari media cetak maupun elektronik yang menyiarkan kekerasan yang dilakukan oleh anak-anak sekolah, baik itu anak SD, SMP, SMA hingga anak-anak kuliahan. Sudah menjadi apa dunia pendidikan kita? Apakah sudah berubah fungsi dari ring ilmu pengetahuan menjadi ring tinju / smackdown? PR bagi semua pihak yang terkait baik dari pemerintah, media, dinas pendidikan maupun orang tua, agar perilaku anak tidak berkembang menjadi perilaku yang negatif. Ini semua dapat di mulai dari pendidikan dasar terlebih dahulu, bentuk watak anak berdasarkan pancasila dan agama. Sebuah PR yang sangat beratkah / hanya sebuah impian belaka?
Mari kita lihat aneka penyebab perilaku kekerasan pada anak dan bagaimana mencegahnya:
MasuK SD Sudah Harus Bisa Baca – Tulis ?
Apakah Anda gelisah karena si kecil sudah mau masuk SD, tetapi belum bisa baca – tulis? Jika jawabannya “ya”, maka Anda tidak sendirian, sebagian besar orangtua di manapun merasakan hal yang sama dengan Anda. Padahal mereka atau mungkin Anda tahu bahwa sebenarnya lulusan TK tidak diwajibkan untuk dapat membaca dan menulis.
Menilik pada tahun 2006, Tabloid Nakita mengadakan poling terhadap orantua bahwa 61,5% responden mengaku khawatir bila anak mereka yang berusia 5 – 6 tahun belum bisa membaca walaupun mereka tahu sebenarnya itu bukan keharusan. Kekhawatiran ini lebih disebabkan banyaknya SD di Indonesia yang memberlakukan tes baca tulis untuk calon siswanya. Padahal Mendiknas, Bambang Sudibyo pernah menegaskan bahwa anak-anak pada usia pra sekolah tak pantas dibebani pelajaran membaca, menulis dan berhitung. Mereka hendaknya justru lebih banyak diarahkan pada pembentukan sikap daripada dijejali pengetahuan dan keterampilan.
Contoh negara luar, Rusia dan negara-negara Skandinavia, anak baru diajarkan membaca secara formal pada usia 7 tahun. Namun di Indonesi, banyak TK bahkan Playgrup ada yang sudah mengajari muridnya membaca, sekali lagi karena tuntutan SD – SD yang mensyaratkan calon siswanya untuk bisa baca tulis. Bahkan yang menarik, tempat-tempat kursus membaca di daerah Jakarta mengaku banyak menerima siswa berusia 2 – 3 tahun karena orangtuaa mereka yang ngotot ingin anak-anak mereka bisa cepat membaca.
