Family Blog

Keluarga Bahagia

Bermain Bersama Ayah

Tanggung jawab ayah dan ibu adalah sama dalam menstimulasi perkembangan anak. Dalam praktiknya, tentu saja ayah harus banyak terlibat dalam pengasuhan anak. Apalagi ternyata ayah dan ibu dapat saling melengkapi dengan mengisi peran yang berbeda-beda. Ini dibuktikan dalam studi yang dilakukan Lamb & Roopnarine et. al. pada tahun 90 di berbagai budaya di dunia yang menunjukkan bahwa ayah mengambil peran yang berbeda dengan ibu dalam berinteraksi dengan anak. Jika ibu lebih banyak memperhatikan aspek fisik dan menunjukkan perhatian dan perasaan, maka ayah mengambil peran sebagai teman bermain bagi anak (mother as a caregiver, father as a playmate).

Studi yang dilakukan Lamb & Oppenheim tahun 1989 menelusuri apa yang akan terjadi kalau peran tersebut dibalik (ibu seba-gai teman bermain dan ayah sebagai caregiver), ternyata ayah tetap mempertahankan perannya sebagai teman main bagi anak. Pendapat ini didukung oleh banyak peneliti yang mengatakan bahwa para ayah memengaruhi anak-anak mereka melalui permainan.

Para ayah biasanya meng-habiskan lebih banyak persentase waktu mereka bersama anak-anak dalam kegiatan bermain. Selain itu, para ayah juga memiliki kecenderungan berbeda dengan gaya ibu dalam bermain. Ayah cenderung memilih permainan yang melibatkan aktivitas fisik dan lebih “menantang”, semisal mengangkat, mengayun, bergulat, atau permainan yang bersifat “maskulin” lainnya.


Boleh jadi karena sebagai pria, ayah memiliki kekuatan dan keseimbangan motorik yang lebih baik serta lebih berani mengambil tindakan yang berisiko seperti mengayun bayinya. Sementara ibu condong memilih permainan konvensional yang sebelumnya sudah teruji “tingkat kese-lamatannya”. Antara lain permainan cilukba, keplok ame-ame, bermain pasel atau membaca buku.

Survei menunjukkan, dalam berinteraksi ayah sering berinisiatif mengeluarkan bunyi-bunyian dan tepukan berirama untuk mendapat perhatian bayinya. Perpaduan fisik dan gaya “heboh” ini merupakan cara penting bagi bayi untuk mengeksplorasi kehidupan emosinya. Bayangkan permainan dimana seorang ayah berperan sebagai seekor “beruang besar yang menakutkan” yang sedang berusaha “menggigit” bayi kecil yang justru tertawa-tawa karena digelitiki. Permainan seperti ini memungkinkan anak mengalami sensasi berupa sedikit rasa takut sekaligus senang dan bergairah. Pengalaman emosi inilah yang kelak akan membantunya mengolah emosi sewaktu berhadapan dengan dunia sesungguhnya yang lebih luas.

Bagi si ayah, permainan “ingar bingar” menjadi tumpuan harapan bahwa anaknya kelak juga akan memiliki keberanian dalam menghadapi bahaya, tidak mudah terkejut, serta memiliki kewaspadaan yang tinggi terhadap lingkungannya. Bayi yang mendapat perhatian dan kesempatan sama besar antara bermain dengan ayah dan dengan ibu mampu menunjukkan perkembangan yang cenderung lebih baik, secara kognitif, sosial, maupun emosionalnya. Berdasarkan pemikiran ini, bisa dimengerti bila anak yangmemiliki banyak waktu bermain bersama ayah umumnya memiliki kematangan yang lebih baik.

Sebaliknya, bila ayah jarang melakukan aktivitas fisik bersama bayinya, bisa dipastikan ia sulit membangun interaksi dengan si kecil. Ayah akan menjadi sosok yang asing. Sementara, perkembangan emosi bayi pun tidak optimal.

Nah, agar dapat mencapai manfaat optimal, ayah yang ingin bermain dengan buah hatinya perlu memahami tahapan perkembangan bayi. Lalu, cermati apa saja yang sudah bisa dilakukan si kecil dan mana yang belum. Hindari aktivitas yang bersifat terlalu “maju” karena tidak akan menghasilkan stimulasi yang optimal. Selamat bermain, Ayah!

Oktober 10, 2009 - Posted by | Ayah

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: