Family Blog

Keluarga Bahagia

Cara Efektif Bicara Kepada Batita

Kemampuan bicara setiap batita boleh jadi berbeda, ada yang sudah lancar meski masih terbata-bata, ada pula yang bicaranya belum jelas. Kadang para orangtua / orang dewasa sering tidak memahami dan salah paham untuk menafsirkan kata / kalimat yang diucapkannya.

Ada banyak penyebab, mengapa anak belum bisa berbicara dengan jelas. Ada yang memang dari sananya, maksudnya gangguan pada organ bicara maupun otak, atau sebab lain, yakni stimulasi yang kurang / tidak tepat. Dirumah mungkin kita jarang mengajaknya bicara, walopun berbicara mungkin saja sering dengan menggunakan bahasa bayi atau bahasa dewasa. Bahasa bayi membuat kemampuan bahasa anak tidak berkembang, sedangkan bahasa dewasa yang kerap terlalu panjang dan rumit membuat anak tidak paham.

Berikut panduan berbicara pada batita:

1. Sesuaikan bahasa yang kita gunakan dengan kemampuan kognitif anak

Biasanya perkembangan kognitif anak seiring dengan pertumbuhan usianya, di usia 1 – 2 tahun, pemakaian kata anak masih terbatas sekitar 2 – 3 kata, maka gunakanlah kalimat sederhana dengan 2 – 3 kata pula, misal: “mau minum?” atau “bobo yuk?” jadi jangan terlalu panjang karena akan membuat anak bingung.


2. Gunakan kata-kata secara lengkap dengan bahasa baku

Contoh: kata “makan”, maka ucapkanlah “makan”, bukan “mam”, “emam”, atau “maem”. Dengan kata-kata secara lengkap, anak jadi terbiasa mengucapkannya dengan benar pula. Ketika ia beranjak besar, ia akan mudah mengucapkan kata dengan benar dan lengkap.

3. Kalimat harus jelas

Ucapkanlah kata-kata dengan jelas agar anak dapat menangkap dengan baik kalimat yang kita ucapkan, jangan terlalu cepat seperti penyanyi rap atau bergumam ataupun seperti orang kumur-kumur. Dan jangan pula mencampur bahasa Indonesia dengan Inggris, seperti “I want gendong”. Hindari juga penggunaan kata abstrak karena anak tidak mampu memahami, contoh: “dede harus jujur ya, supaya orang lain percaya sama dede”, selain abstrak, kalimatnya pun terlalu panjang.

4. Sertai dengan bahasa isyarat

Di usia 1 – 2 tahun, anak masih dalam taraf pemikiran konkret sehingga dia akan lebih memahami sesuatu kalo dia melihat benda secara kasat mata. Jadi, ketika kita menanyakan, “ade mau minum?” sertai dengan gerakan tangan seperti memegang gelas dan diarahkan ke mulut, gerakan ini merupakan konkret yang dapat dilihat anak sehingga ia akan lebih paham. Yang perlu diingat gerakannya cukup gerakan sederhana saja dan jangan berlebihan.

5. Gunakan kalimat aktif

Sebaiknya gunakan kalimat aktif yang jawabannya mudah, ya atau tidak. Ingat, kemampuan bahasa anak masih rendah sehingga ia tidak bisa merespons jawaban yang terlalu rumit dan njelimet. Jangan bertanya, “kenapa mau makan?” karena anak akan kesulitan dalam menjawabnya. Menjelang 3 tahun, kita bisa memperkaya bahasa anak, tidak hanya dengan jawaban ya atau tidak, misal melanjutkan suku kata terakhir, “makan supaya se……?” anak akan melengkapinya dengan suku kata “hat”.

6. kalimat yang diucapkan hanya memiliki satu pengertian

Misal “ade mau susu?” jangan menggunakan kalimat yang mengandung dua arti atau lebih, “ade mau susu menggunakan gelas yang mana?” anak akan bingung, orang tua mau menawarkan susu atau ia akan memakai gelas yang mana? Pertanyaan yang mengandung dua arti atau lebih sebaiknya dipisah menjadi 2 bagian, “adek mau susu?” jika ia sudah menjawab, baru tanyakan kembali, “pakai gelas ini?” ini perlu dilakukan mengingat daya serap anak masih terbatas.

Oktober 15, 2009 - Posted by | Batita

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: