Family Blog

Keluarga Bahagia

MasuK SD Sudah Harus Bisa Baca – Tulis ?

Apakah Anda gelisah karena si kecil sudah mau masuk SD, tetapi belum bisa baca – tulis? Jika jawabannya “ya”, maka Anda tidak sendirian, sebagian besar orangtua di manapun merasakan hal yang sama dengan Anda. Padahal mereka atau mungkin Anda tahu bahwa sebenarnya lulusan TK tidak diwajibkan untuk dapat membaca dan menulis.

Menilik pada tahun 2006, Tabloid Nakita mengadakan poling terhadap orantua bahwa 61,5% responden mengaku khawatir bila anak mereka yang berusia 5 – 6 tahun belum bisa membaca walaupun mereka tahu sebenarnya itu bukan keharusan. Kekhawatiran ini lebih disebabkan banyaknya SD di Indonesia yang memberlakukan tes baca tulis untuk calon siswanya. Padahal Mendiknas, Bambang Sudibyo pernah menegaskan bahwa anak-anak pada usia pra sekolah tak pantas dibebani pelajaran membaca, menulis dan berhitung. Mereka hendaknya justru lebih banyak diarahkan pada pembentukan sikap daripada dijejali pengetahuan dan keterampilan.

Contoh negara luar, Rusia dan negara-negara Skandinavia, anak baru diajarkan membaca secara formal pada usia 7 tahun. Namun di Indonesi, banyak TK bahkan Playgrup ada yang sudah mengajari muridnya membaca, sekali lagi karena tuntutan SD – SD yang mensyaratkan calon siswanya untuk bisa baca tulis. Bahkan yang menarik, tempat-tempat kursus membaca di daerah Jakarta mengaku banyak menerima siswa berusia 2 – 3 tahun karena orangtuaa mereka yang ngotot ingin anak-anak mereka bisa cepat membaca.


Jika anaknya pada usia 3 – 4 tahun sudah pandai membaca, orangtua akan merasa bangga dibuatnya, siapa sih yang tidak bangga jika anaknya sudah bisa baca di usia 3 atau 4 tahun?

Kita lihat beberapa pendapat dari para ahli tentang anak yang bisa membaca di usia dini.

1. Glenn Doman

Program yang dikenal di Indonesia lewat “belajar membaca untuk bayi”, percaya bahwa anak mampu belajar sejak usia dini. Bahkan sejak ia lahir anak sudah mulai belajar. Pada saat anak berusia 6 tahun, ia sudah banyak sekali informasi yang diserapnya, bahkan mungkin lebih banyak dari apa yang akan di pelajari sepanjang sisa hidupnya. Karena itu Doman berpendapat bahwa anak batita pun bisa belajar membaca kata, kalimat, bahkan paragraf sebagaimana mereka belajar mengucapkan kata, kalimat maupun paragraf.

2. David Elkind

Dalam bukunya “The Hurried Child – Growing up too Fast too Soon”, walaupun seorang anak bisa menghafal huruf-huruf dalam kata-kata yang dibacanya, ia tidak akan bisa mengerti konsepnya sampai berusia 5 – 6 tahun. Anak akan belajar membaca bila mereka sudah mulai tertarik dan tidak diburu-buru. Menurutnya, terlalu banyak tekanan pada pendidikan usia dini justru akan melemahkan atau bahkan menghilangkan antusiasme anak tersebut untuk belajar.

3. Reni Akbar Hawadi

Dalam bukunya “Psikologi perkembangan anak”, juga sepaham dengan David Elkind.

4. R. Goldstein

Dalam bukunya “The parenting bible, juga sepaham dengan David Elkind.

5. Seto Mulyadi

Menghimbau para orangtua untuk tidak terlalu dini menjelaskan pelajaran membaca, menulis, atau berhitung kepada anak usia dini.

Kapan waktu yang tepat?

Jika ditarik kesimpulan, waktu yang tepaaaat untuk belajar membaca, menulis dan berhitung adalah saat anak sudah siap, yakni mampu untuk menerima pelajaran tersebut. Setiap anak punya kemampuan yang berbeda-beda, ada yang cepat dalam membaca, menulis bahkan berhitung dan juga ada yang lambat. Walaupun si anak punya kemampuan membaca di usia dini lebih cepat dari yang lain, belum tentu ia juga mempunyai kemampuan yang dimiliki oleh anak yang lambat dalam membaca dan menulis. Jadi semuanya tetap kembali pada anak dan gunakan metode yang sesuai dengan tahapan perkembangan anak.

Untuk sebuah pertanyaan di awal tadi, apakah pada saat masuk SD anak harus sudah bisa baca tulis? Jawabannya menurut saya tidak. Karena kembali lagi pada keunikan tiap-tiap anak. Belum tentu yang belum bisa membaca saat masuk SD adalah anak yang bodoh.

Oktober 17, 2009 - Posted by | Sekolah

2 Komentar »

  1. Saya tdk setuju kalau anak terlalu dini untuk pandai membaca dan menulis
    (sepaham Bu…)

    Komentar oleh Sri Rahayu | Januari 26, 2010 | Balas

  2. Materi pembelajaran di SD sudah menuntut anak secara tidak langsung untuk bisa memahami soal, otomatis anak harus bisa membaca dan mengerti soal dulu—, sementara di tingkat PAUD atau Taman Kanak-Kanak belum boleh diajarkan…???, jadi mohon dari Dinas Pendidikan ada solusi konkrit tentang hal ini…
    Terima kasih….

    Komentar oleh Slamet Munawar | Oktober 30, 2012 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: