Family Blog

Keluarga Bahagia

Perilaku Negatif Anak Sekolah Dasar

Seyogyanya anak-anak yang masih duduk sekolah dasar mempunyai tindakan dan perilaku yang masih polos, pemikiran yang berkembang pun masih dalam tahap proses belajar dan belajar dari lingkungannya. Jika lingkungan sekitarnya baik maka ia pun akan menyerap dengan baik pula, namun jika lingkungan di sekitarnya buruk, maka ia kan menyerap dan mencernyanya menjadi buruk pula, jadi bagaimana peran para orang tua dan guru-guru disekolah menjadi filter bagi setiap perkembangan perilaku anak-anaknya.

Banyak berita-berita yang kita saksikan baik dari media cetak maupun elektronik yang menyiarkan kekerasan yang dilakukan oleh anak-anak sekolah, baik itu anak SD, SMP, SMA hingga anak-anak kuliahan. Sudah menjadi apa dunia pendidikan kita? Apakah sudah berubah fungsi dari ring ilmu pengetahuan menjadi ring tinju / smackdown? PR bagi semua pihak yang terkait baik dari pemerintah, media, dinas pendidikan maupun orang tua, agar perilaku anak tidak berkembang menjadi perilaku yang negatif. Ini semua dapat di mulai dari pendidikan dasar terlebih dahulu, bentuk watak anak berdasarkan pancasila dan agama. Sebuah PR yang sangat beratkah / hanya sebuah impian belaka?

Mari kita lihat aneka penyebab perilaku kekerasan pada anak dan bagaimana mencegahnya:


1. Ada contoh

Adanya contoh dari anak-anak yang lebih besar, seperti perilaku kekerasan yang dilakukan kakak-kakak SMP / SMU / Mahasiswa, sedikit banyak mendorong perilaku gencet-gencetan di usia SD. Selain itu, budaya kekerasan yang dipertontonkan di televisi sehari-hari, baik dalam acara berita maupun sinetron, juga dapat menginspirasi anak untuk melakukan hal yang sama.

2. Ada kesempatan

Perilaku kekerasan tidak akan terjadi bila hanya ada ide saja namun tanpa adanya kesempatan. Kesempatan itu terbuka manakala kontrol dari pihak otoritas sangat longgar. Kalau itu terjadi di sekolah, maka guru dan pihak sekolah berarti kurang pengawasan. Kalau itu terjadi di luar sekolah, maka kontrol sosial masyarakat yang lemah. Memang, budaya kekerasan ini menjadi tanggung jawab bersama untuk mencegah dan mengatasinya.

3. Terabaikan

intinya, mereka yang menjadi pelaku adalah mereka yang haus akan perhatian alias terabaikan. Selama kebutuhan akan perhatian itu belum tercukupi, maka selama itu pula masih muncul potensi untuk melakukan gencet-gencetan di sekolah.

4. Kurangnya kontrol sekolah

Seperti sudah di jabarkan di atas, sekolah seharusnya tidak menoleransi sama sekali perilaku kekerasan yang dilakukan anak didiknya. Ada beberapa SD yang sudah menerapkan sanksi keras pada perilaku kekerasan. Bila aturan ini diberlakukan secara ketat, maka kecil kemungkinan ada gencet-gencetan di sekolah.

Sebelum terlanjur terjadi, beberapa langkah bisa dilakukan sebagai upaya pencegahan diantaranya:

1. Kontrol bersama

Baik orang tua maupun guru harus sama-sama melakukan kontrol pada perilaku anak. Begitu terlihat ada hal-hal yang mencurigakan pada perilaku anak yang menjadi pelaku maupun korban, orang tua dan guru harus segera mengambil tindakan. Jangan sampai sudah ada kejadian, anak sudah merajalela sebagai pelaku atau “babak belur” sebagai korban, baru semua pihak terperanjat dan melakukan tindakan dan langkah-langkah yang sudah sangat terlambat.

2. Berikan perhatian secara individual

Ini kunci pencegahan yang paling efektif. Tiap anak memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, semua itu tidak bisa menjadi alasan untuk mengabaikannya. Anak-anak yang merasa cukup mendapat perhatian, baik dari orang tua maupun guru, umumnya tidak akan mencari perhatian dalam bentuk lain seperti melakukan tindakan kekerasan pada teman yang dianggap lemah.

Sumber: http://www.adriwindrardi.wordpress.com

Oktober 23, 2009 - Posted by | Sekolah

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: