Family Blog

Keluarga Bahagia

Melihat dan Menafsirkan Kekecewaan Pada Bayi

Jangan biarkan rasa kecewanya terakumulasi. Dampaknya bisa panjang lo.

Coba perhatikan wajah mungil si bayi saat kita melepaskannya dari gendongan lalu menaruhnya di boks atau ketika ia haus sementara kita masih sibuk dengan hal lain. Begitu juga selagi ia memegang mainan tertentu dan kita menganggapnya kotor lalu segera mengambilnya untuk dibersihkan. Anda segera dapat melihat ekspresi kekecewaannya. Begitu pula ketika ayah dan ibu harus pergi bekerja.

Seperti halnya rasa marah atau perasaan negatif lainnya, kekecewaan merupakan hal yang tak bisa dihindari dalam keseharian. Rasa kecewa ini muncul akibat sikap lingkungan yang tak diharapkan. Jika lingkungan cepat memberi respons untuk memenuhi kebutuhannya, maka bayi akan merasa bahagia dibanding jika berada di lingkungan yang lambat, kurang peka, atau bahkan sama sekali tidak merespons kebutuhannya. Apakah itu kebutuhan fisik yang ditandai rasa lapar, haus, dingin, kepanasan, atau kebutuhan psikis seperti ingin disayang, dibelai, dipeluk, ditimang, dan dicium.

Sebetulnya, sejak lahir bayi sudah memiliki emosi. Namun di usia 3 bulan ke atas, barulah bayi bisa menampilkan emosinya dan lingkungan bisa menangkapnya. Respons emosi pada bulan-bulan pertamanya lebih terkait dengan kondisi internalnya seperti ketidaknyamanan fisik dan rasa sakit. Usia 1-6 bulan mulai terkait dengan pemisahan diri dengan lingkungan. Bayi juga mulai tersenyum pada orang di sekitarnya, tertarik dengan stimulus baru, marah ketika terganggu, dan lainnya. Usia 6-12 bulan emosinya terkait dengan kemampuan mengingat apa yang telah terjadi dan membandingkannya dengan peristiwa yang sudah terjadi. Misal, senang ketika diberi mainan bebek karet yang mengeluarkan angin dan bunyi. Emosi di usia ini juga merefleksikan kemampuannya melatih kontrol terhadap lingkungan di sekitarnya dan frustrasi ketika tujuannya tidak tercapai.

Emosi dasar inilah yang akan dirasakannya ketika keinginannya tak tercapai.

BANTU CARIKAN SOLUSI

Jadi sebaiknya jangan sampai orangtua membiarkan kekecewaan tersebut berlarut-larut dirasakan si kecil. Lewat pengamatan, sebetulnya bisa terlihat tanda kekecewaan pada bayi. Terutama dari komunikasi awal yang paling sederhana yang dapat dilakukannya, yakni menangis. Orangtua biasanya sudah tahu dan dapat mengidentifikasikan dengan sendirinya tangisan seperti apa yang merupakan ekspresi kekecewaan si kecil. Sayangnya, tanpa disadari orangtua kerap menunjukkan sikap yang membuat bayi merasa frustrasi dan kecewa, di antaranya:

* kurang peka akan kebutuhan bayi

Orangtua lebih sering terfokus pada kebutuhan fisik bayi ketim-bang kebutuhan psikisnya. Contohnya, bila menangis, umumnya orangtua menganggap bayi hanya lapar atau haus. Padahal, sangat mungkin ia hanya ingin digendong dan dibelai. Contoh lain, orangtua langsung mengambil mainan yang tengah dimainkan bayi hanya karena mainan tersebut dianggap kotor. Padahal di saat yang sama, bayi tengah asyik memegang-megangnya. Ini menunjukkan ketidakpekaan orangtua terhadap kebutuhan bayi.

* tidak berusaha mencari solusi

Contohnya ketika si kecil marah karena mainan garpu-garpuannya yang terbuat dari plastik diambil, orangtua tidak segera menggantikannya dengan mainan sejenis, seperti sendok-sendokan. Atau ketika “memaksa” menggeletakkan bayi di boks selagi ia masih ingin terus digendong, orangtua tidak memberi mainan pengalih perhatian seperti mainan yang mengeluarkan suara-suara atau musik tertentu.

APA YANG HARUS DILAKUKAN?

Mestinya orangtua dapat lebih meningkatkan kepekaannya untuk segera memberikan respons ketika bayi mengalami kekecewaan. Ini penting agar emosi negatif pada bayi tidak terakumulasi hingga membentuk perasaan tidak aman atau tidak percaya terhadap lingkungan. Berikut beberapa hal yang dapat dilakukan orangtua:

* Perlu tindakan

Perhatikan kebutuhan apa yang sedang diinginkannya saat ini. Jika orangtua memang tidak bisa memenuhi keinginannya, antara lain minta digendong terus, maka segera alihkan perhatiannya saat ia ditaruh dalam boks. Jangan biarkan ia merasa sendirian. Jika kebutuhannya saat itu adalah melegakan rasa hausnya, maka sesegera mungkin langsung susui. Jika tidak memungkinkan atau perlu waktu ekstra untuk menyiapkan ASI perah dari lemari es, maka lakukan sesing-kat mungkin. Kalau perlu, siapkan begitu jam menyusuinya tiba.

* Ungkapkan kasih sayang

Bisa lewat sentuhan maupun kata-kata bernada lemah lembut. Selain tindakan, beri juga penjelasan yang mudah dan sederhana. Meski bayi belum mengerti sepenuhnya namun ia pasti dapat menang-kap kasih sayang tersebut sambil mengembangkan kemampuan berbahasanya. Kata-kata lembut dari orangtua akan menghibur perasaannya yang kecewa. Ia pun merasakan bahwa orangtuanya tetap mengerti dan memahami kebutuhannya.

* Beri kesempatan beradaptasi

Jangan membiarkan bayi merasa marah dan kesal dalam waktu lama akibat perubahan tiba-tiba yang mengagetkannya. Tanpa ba-bi-bu langsung menurunkannya dari gendongan, contohnya, yang pastinya mem-buat bayi merasa tak nyaman. Ini bisa dimengerti karena bayi jadi tak punya waktu untuk menyesuaikan diri dengan kondisi dadakan tersebut.

Akan sangat berbeda hasilnya jika si kecil diberi kesempatan untuk beradaptasi secara perlahan. Memberi objek pengganti dan mengajaknya bicara akan membantu bayi terkondisikan dengan perubahan yang terjadi. Misalnya, kala mengambil mainan yang kita anggap kotor, kita katakan, “Sini, Mama bersihkan dulu.” Atau, “Ini kotor, jadi tidak boleh kamu masukkan ke mulut. Kalau yang ini boleh,” sambil menyodorkan mainan pengganti yang bersih. Begitu juga ketika harus menurunkannya dari gendongan, katakan, “Bunda ke dapur dulu ya, mau angkat air panas. Kamu di sini dulu.” Atau ketika melepasnya untuk pergi kerja, jangan langsung bergegas meninggalkannya. Melainkan sempatkan untuk main sebentar sebelum berpamitan dengannya meski posisi bayi dalam gendongan pengasuh.

DAMPAK AKUMULASI KECEWA

Dampaknya mungkin belum begitu tampak di usia bayi karena biasanya akan muncul di tahapan usia-usia berikutnya, bahkan hingga dewasa:

Sulit mengontrol emosi

Setiap individu lahir dengan temperamen bawaan. Bayi yang sering mengalami rasa kecewa, maka perkembangan emosinya bisa terganggu. Ia pun tidak mampu mengelola emosinya dengan baik karena memang tidak dibiasakan untuk mengekspresikan perasaan secara sesuai dan tak diajarkan cara mengatasinya. Ia tidak tahu mengungkapkan kekecewaan secara tepat. Kalaupun marah, sering kali dalam porsi yang tidak proporsional. Emosi yang sering dirasakan juga cenderung negatif.

Pribadi yang pesimis

Kebutuhan bayi yang tidak terpenuhi dengan baik akan menumbuhkan mistrust alias ketidakpercayaan terhadap lingkungan. Lebih lanjut ketidakpercayaan ini akan menempanya menjadi individu yang tidak percaya pada dirinya sendiri selain lingkungan. Ia cenderung menganggap apa saja yang dilakukannya selalu tak membuahkan hasil memuaskan. Tak heran kalau nantinya yang bersangkutan akan tumbuh menjadi individu yang pesimis. Lain halnya jika lingkungan peka dan peduli terhadap kebutuhan anak. Ia akan tumbuh menjadi pribadi yang penuh percaya diri dan optimis.

Sulit berinteraksi

Rasa tak percaya diri akan membuat anak selalu takut untuk melangkah. Ia sulit membina hubungan dengan orang lain. Interaksi atau kemampuan dirinya bersosialisasi jadi terhambat. Di lingkungan pekerjaan pun kelak ia tak akan berkembang optimal. Dengan demikian, dampak kekecewaan semasa bayi bisa luas dan mengenai seluruh aspek kepri-badiannya.

* Attachment/kelekatan dengan orangtua menjauh

Tak dapat disangkal bahwa masa bayi merupakan masa pembentukan kelekatan seorang anak dengan orangtuanya. Nantinya, kelekatan ini tak bisa dilepaskan dari kemam-puan anak berinteraksi dengan lawan jenisnya. Jika kelekatan terjalin baik, hubungan dengan lawan jenis yang terbina saat dewasa akan bersifat positif.

Jika bayi sering kecewa pada sikap orangtua, otomatis kelekatannya dengan orangtua jadi terganggu. Itu karena anak merasa diabaikan kebutuhannya. Akhirnya, ia menyikapinya dengan dua kemungkinan. Pertama dengan bersikap resisten dan kedua dengan bersikap tidak peduli alias acuh tak acuh.

Si sosok resisten akan gampang menangis atau rewel setiap kali kebutuhan dan keinginannya tidak terpenuhi. Kala orangtua berangkat bekerja, ia mengantar kepergian mereka dengan menangis sejadi-jadinya. Kemudian ketika ibu dan ayah kembali, dia akan bersikap agresif, seperti memukul-mukul. Sedangkan anak yang tak peduli akan benar-benar acuh tak acuh di saat orangtuanya ada ataupun tidak ada. Jadi, jangan anggap remeh kekecewaan ini.



Desember 11, 2009 - Posted by | Bayi, Psikologis

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: